Jarak Memang Kejam!


Jarak itu menguji kesetiaan,
membuat hati bimbang,
meredupkan kerinduan dalam diam,
dan perlahan memisahkan.

Jarak memang kejam!

Pagi ini aku dikejutkan dengan sebuah pesan.
Pesan dari seseorang yang sudah tidak asing bagiku.
Seseorang yang pernah mewarnai hidupku.
Seseorang yang pernah berjanji untuk setia menungguku.

Namun, semua kata-kata manis itu seakan hanyalah mimpi yang tak kan jadi kenyataan.

Ini semua karena jarak.

5 tahun menunggu, lebih dari 2 tahun lamanya kami tidak bertemu. 
Hanya ada komunikasi jarak jauh, itupun dengan intensitas tak menentu.

Inilah saat-saat kerinduan yang hanya bisa dipendam dalam diam.

Dia saat ini berada di Kyoto, Jepang. Sedangkan aku di Bogor, Indonesia
Jarak kami terbentang begitu jauh, akupun tak yakin dapat kembali bertemu.

Mungkin ini benar, pagi ini aku mendapatkan pesan yang menggetarkan hati. Pesan itu berisi:


Aku tak tahu lagi harus bagaimana...  
Menunggu atau mengikhlaskan, 
kau pergi untuk mencapai apa yang kau inginkan . 
Aku tak tahu lagi harus berbuat apa agar bisa memahamimu, bahwa segala sesuatunya telah diatur sedemikian rupa tanpa harus ada yang tersakiti. 
Aku ingin pergi. 
Ya, pergi tanpa menyakitimu. 
Aku ingin pamit. 
Pamit untuk tak bersamamu lagi. 
Aku ingin kau bisa memilih, karena yang terbaik akan kau temui kala kau sudah memilih untuk meninggalkan. 
Berat rasanya mengatakan, tapi apa daya ini adalah suatu keputusan untuk lebih baik tanpa harus ada yang tersakiti. 


Pergi untuk kembali atau pergi tanpa pamit. 
Sama saja, semua sudah menjadi takdir yang harus dijalani. 
Semua adalah kehidupan yang pernah berkisah di dalamnya antara aku dan kau. 
Kini bukan hanya tersisa kenangan, pun dengan rasa, rasa yang harus terulang kembali dengan orang yang berbeda. 
Atau pun dengan orang yang sama, namun dengan keadaan berbeda.
Berevolusilah tanpa ku. 
Pergilah, siapa tahu kau menemukan kembali seperti pertama kali yang kali ini kau pilih untuk selamanya.

No comments:

Powered by Blogger.